SISTEM INFORMASI DAFTAR PEMILIH SEMENTARA

SISTEM INFORMASI DAFTAR PEMILIH SEMENTARA

SISTEM INFORMASI DAFTAR PEMILIH SEMENTARA

SISTEM INFORMASI DAFTAR PEMILIH SEMENTARA
SISTEM INFORMASI DAFTAR PEMILIH SEMENTARA

Setiap pemilu bakal digelar – baik pemilu legislatif, presiden, maupun daerah – satu kegiatan utama panitia pemilu (baca = Komisi Pemilihan Umum dan Komisi Pemilihan Umum Daerah) adalah membuat calon daftar pemilih. Kegiatan ini- mendaftar calon pemilih – membutuhkan banyak energi dan rentan terhadap konflik, dan tentunya biaya.

Rutinitas yang dilalui dimulai dari pengumpulan data daftar calon pemilih, verifikasi, penetapan calon pemilih, pencetakan kartu/undangan pemilih, distribusi kartu/undangan. Di setiap titik kegiatan ini membutuhkan dukungan finansial yang mapan, kecermatan dan ketelitian, tenaga dan infrastruktur lain yang terkait.

Bukan tidak jarang alias seringkali kerja panitia pemilu yang nggoyo seperti ini banyak lubang. Selalu saja terdapat sekian persen penduduk yang tidak terdaftar dalam calon daftar pemilih. Sekian persen data tidak valid karena calon pemilih tidak memenuhi syarat dan kehilangan hak pilihnya (di bawah umur, meninggal, gila dll). Jumlahnya di setiap daerah yang menyelenggarakan pilkada variatif. Agaknya kurang disadari juga bahwa masyarakat kita telah bergeser dari masyarakat yang bertempat tinggal dan bekerja dalam satu daerah (traditional) dan sehingga mempunyai catatan administrasi setempat menjadi masyarakat yang tinggal di daerah tertentu dan bekerja di daerah yang lain (urban) dengan catatan administratif di lain tempat. Kegiatan pencatatan daftar calon pemilih yang bermuara pada penetapan daftar pemilih seringkali tidak efektif karena mengandalkan pada petugas pencacatan dan verifikator.

Metode seperti ini harus diperbaiki dengan segera. perkembangan teknologi informasi yang ada harus segera direspon dan dimanfaatkan ke arah ini. Sudah waktunya daftar pemilih sementara maupun tetap di sharing melalui teknolgi informasi yang ada. pengumuman daftar pemilih tidak hanya berupa lembaran kertas namun juga dalam benuk elektronik yang dapat di akses semua masyarakat. Saya membayangkan bahwa daftar pemilih tersebut nantinya dapat dikelompokkan menurut daerah, TPS dan dapat dicari berdasarkan nama maupun identitas yang lain.

tentu saja jika peserta tidak menemukan nama yang dimaksud atau menjumpai bahwa nama-nama tertentu tidak tercantum, tidak berhak menjadi pemilih, peserta dapat mengajukan keluha melalui e-mail yang telah disediakan. Bahkan jika nama tertentu tercatat tapi tidak mendapatkan undangan, dia dapat mencetak sendiri kartu/undangan pemilih.

Saya juga membayangkan bahwa dengan adanya data yang dapat dibaca oleh siapapun ini, menjadikan pemilu dapat diawasi oleh siapapun. Bahkan pada hari H, di tingkat TPS, petugas dapat mengetahui siapa melakukan apa (apakah pemilih ditempatnya sudah mencoblos ditempat lain atau belum). sehingga pada akhirnya tidak ada pemilih yang mecoblos lebih dari 1 kali.

Menyikapi pergeseran masyarakat kita dari tradisional menjadi urban, perlu untuk dipikirkan agar mereka juga dapat menggunakan hak pilihnya. Suatu saat kita butuh agar pemilih dapat menggunakan haknya melalui internet. Supaya tidak terjadi penggunaan lebih dari 1 kali hak pilihnya, untuk menggunakan hak pilih melalui media ini pemilih tetap perlu melakukan verifikasi.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kendall-kylie-apk/

About the Author