PROBLEMA INDONESIA

PROBLEMA INDONESIA

Pada 2008, Indonesia menaikkan Fasbi rate hingga delapan kali dan suku bunga acuan hingga enam kali untuk membendung inflasi. Bank sentral secara tak terduga kembali menaikkan bunga acuan pada rapat kebijakan tidak terjadwal 29 Agustus lalu. Padahal, pada pertemuan 15 Agustus, BI memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan. Bank sentral Indonesia itu juga menaikkan Fasbi rate sebesar 0,5 poin menjadi 5,25%.
Indonesia juga telah menjual saham syariah berdenominasi dolar senilai US$1,5 miliar awal pekan ini, dengan imbal yang mencapai rekor tertinggi sejak 2009. Tujuannya adalah untuk menambah cadangan mata uang asing guna menopang rupiah.
Jumlah cadangan mata uang asing di Indonesia mencapai rekor terendah hampir selama 3 bulan terakhir. Akibatnya, para pembuat kebijakan terpaksa memperpanjang perjanjian swap bilateral dengan Bank of Japan (BoJ) yang bernilai US$12 miliar.
Laju pertumbuhan Indonesia hanya mencapai 5,8% kuartal lalu dari tahun sebelumnya, dan merupakan fase paling lambat dalam 2 tahun terakhir. Secara kontras, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Filipina naik 7,5%, setara dengan PDB China kuartal lalu, setelah Aquino menggenjot belanja dan investasi.
Negara beribu kota Manila itu juga digadang-gadang menjadi salah satu dari 5 kekuatan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat tahun ini dan tahun depan. Padahal, fase pertumbuhan rata-rata tahunan Filipina dari 2001—2010 adalah 4,8%, dibandingkan dengan Indonesia yang mencapai 5,3%.
“Bintang Indonesia telah meredup. Sebaliknya, kebangkitan ekonomi Filipina cukup mengesankan. Bersama dengan China, negara itu akan menjadi kekuatan ekonomi Asia dengan pertumbuhan tercepat beberapa tahun mendatang,” imbuh Gareth Leather, ekonom Capital Economics Ltd. yang berbasis di London, sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (11/9).
Sumber :https://etrading.co.id/lipi-indonesia-akan-bentuk-konsorsium-riset-samudera/

About the Author