Pengertian Muamalah dan Jual Beli

Pengertian Muamalah dan Jual Beli

Muamalah adalah tukar menukar barang, jasa atau sesuatu yang memberi manfaat dengan tata cara yang ditentukan. Termasuk dalam muamalat yakni jual beli, hutang piutang, pemberian upah, serikat usaha, urunan atau patungan, dan lain-lain. Adapun Jual beli adalah suatu kegiatan tukar menukar barang dengan barang lain dengan tata cara tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah jasa dan juga penggunaan alat tukar seperti uang.

  1. Rukun Jual Beli

Dalam menetapkan rukun jual beli, di antara para ulama terjadi perbedaan pendapat. Menurut ulama Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridha, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Pengertian Muamalah dan Jual Beli

Adapun rukun jual-beli menurut jumhur ulama ada empat, diantaranya :

  1. Bai’ (Penjual).
  2. Mustari (Pembeli).
  3. Shighat (Ijab dan Qabul).
  4. Ma’qud ‘alaih (Benda atau barang).

 

  1. Larangan Jual-Beli

Di antara larangan dalam jual-beli ialah :

  1. Membeli barang di atas dari harga pasaran.
  2. Membeli barang yang sudah di beli atau di pesan oleh orang lain.
  3. Menjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong).
  4. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat.
  5. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya.
  6. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi.
  7. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli.
  8. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan.
  9. Menjual atau membeli barang haram.
  10. Jual-beli dengan tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan pasar, mencelakai para pesaing, dll.
  1. Syarat-Syarat Sah Jual Beli

Dalam syarat jual beli terbagi dalam dua bagian yaitu syarat-syarat untuk pelaku Akad, dan syarat-syarat untuk barang yang diakadkan.

Syarat-syarat untuk pelaku akad yaitu harus berakal dan memiliki kemampuan untuk memilih. Tidak di syaratkan untuk orang gila, orang yang mabuk, anak kecil yang belum bisa membedakan, maka yang demikian tidak bias dinyatakan sah dalam jual beli.

Adapun syarat-syarat untuk barang yang diakadkan diantaranya :

  1. Suci (halal dan baik).
  2. Bermanfaat.
  3. Milik orang yang melakukan akad.
  4. Mampu diserahkan oleh pelaku akad.
  5. Mengetahui status barang (kualitas, kuantitas, jenis dan lain-lain)
  6. Barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakukan akad.

sumber :

http://student.blog.dinus.ac.id/handay/sewa-bus-pariwisata-kudus/

About the Author