Pembatasan keluarga

Pembatasan keluarga

Dari diskusi awal dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat pertumbuhan populasi akan menurun hanya jika masyarakat memutuskan untuk membatasi kelahiran dengan berbagai metode kontrasepsi. Akan tetapi terdapat beberapa kendala terhadap praktek pembatasan keluarga. Pertama, dalam masyarakat dengan tingkat kematian yang tinggi, tingkat kelahiran harus tinggi untuk menjaga kelangsungan generasi. Kedua, beberapa agama yang dianut dalam suatu masyarakat melarang pembatasan jumlah keluarga, atau minimal ada penafsiran (sementara) bahwa pembatasan keluarga dilarang. Ketiga, di negara-negara berkembang, anak-anak adalah asuransi bagi usia tua karena biasanya pemerintah tidak menyediakan sistem asuransi sosial. Kasus ini terjadi terutama di masyarakat yang tradisional dan tingkat monetisasinya rendah, dimana tidak mungkin untuk menabung bagi usia tua karena hasil panennya tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Keempat, anak adalah tenaga bantuan bagi keluarga dalam mengambil sumber daya alam seperti kayu bakar, menggembalakan ternak, berburu, atau memancing di negara-negara dimana belum semua tanah, hutan, dan sungai dimiliki secara individual. Di Bangladesh, dengan populasinya yang sangat padat dan semua tanah sudah dimiliki swasta, tingkat fertilitas telah menurun. Akan tetapi di beberapa negara Afrika, di mana masih terdapat banyak tanah umum dari mana kayu bakar bisa diambil dan ternak bisa digembalakan, tingkat fertilitas masing-masing tinggi.

Sebenarnya kebanyakan masyarakat telah menggunakan berbagai pembatasan fertilitas dengan cara mereka sendiri, seperti penundaan pernikahan dan berbagai ketabuan dalam hubungan sex, atau berbagai bentuk kontrasepsi tradisional. Meskipun demikian supaya pembatasan keluarga bisa sukses, upaya tersebut tetap harus dibantu pemerintah dengan menyediakan peralatan kontrasepsi disemua daerah. Kelangkaan alat kontrasepsi tersebut dicurigai sebagai penyebab utama belum berhasilnya proses pembatasan keluarga sampai saat ini. Beberapa pakar menganggap faktor ini lebih penting dari pada sanksi sosial dan agama, atau ide tentang asuransi dihari tua dalam upaya pembatasan keluarga. Kebenaran tentang hal ini telah diseliki oleh sejumlah survei yang dilakukan diberbagai negara berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan yang besar dalam tingkat fertilitas di negara-negara berkembang dimulai sekitar 25 tahun yang lalu, terutama dipengaruhi oleh kenaikan jumlah pasangan yang menggunakan kontrasepsi. Survei di 44 negara dunia ketiga, mencakup 300.000 wanita dalam usia mengasuh-anak, mengindikasikan bahwa sekitar 55 persen menggunakan kontrasepsi meskipun dengan variasi yang besar: negara-negara di sub-Sahara Afrika hanya sekitar 12 persen, sementara di Asia Timur 79 persen.

Berbagai penelitian

Berbagai penelitian tersebut menyarankan bahwa proses perencanaan keluarga dimasa datang memerlukan lebih banyak. Persuasi lewat kampanye (dalam arti luas) seperti pendidikan bagi para gadis atau pasangan muda, juga tersedianya kontrasepsi yang murah dan terpercaya. Penemuan pil kontrasepsi dan juga intra urine devide (IUD atau ‘coil’) telah membuat perubahan besar pada proyek keberhasilan karena berbagai kelebihannya yang telah digunakan secara luas di sebagian besar Asia dan Amerika Latin.

Baca juga:

About the Author