Munasabah

Munasabah

Munasabah

Munasabah

Dalam surat ini Allah secara umum mengemukakan adanya tanda-tanda keesaan Allah di langit dan di bumi. Didalam surat Ar Ra’d Allah mengemukannya lagi secara lebih jelas.

Kedua surat tersebut sama-sama memuat pengalaman nabi-nabi zaman dahulu beserta umatnya. Yang menentang kebenaran mengalami kehancuran sedang yang mengikuti kabenaran mendapat kemenangan.

Pada akhir surat Yusuf diterangkan bahwa Al Quran itu bukanlah perkataan yang diada-adakan, melainkan petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman, dan keterangan yang demikian itu diulangi lagi di awal surat Ar Ra’d.

2.1.5        Tafsir

Mimpi raja Mesir itu adalah bagian dari takdir Allah sebagai sebab yang mengeluarkan Yusuf dari penjara secara terhormat, karena sang raja setelah bermimpi seperti itu sangat terperanjat ketakutan serta keheranan dan menanyakan apa ta’birnya. Maka ia mengumpulkan para juru nujum, cendikiawan, dan pembesar pemerintahannya, serta pejabat di negara. Lalu sang raja menceritakan mimpinya kepada mereka, kemudian menanyakan a’birnya. Tetapi mereka tidak mengetahuinya, dan beralasan bahwa “Itu hanyalah mimpi yang kosong” yaitu, mimpi yang bercampur aduk yang telah terjadi pada mimpi paduka ini, kami tidak tahu tentang ta’bir mimpi itu,” maksudnya, kalaupun mimpi itu benar, bukan dari pikiran yang kacau, kami pun tidak mengetahui penafsirannya.

Pada saat itulah orang yang selamat dan keluar dari penjara baru teringat kepada Yusuf setelah beberapa waktu lamanya, karena syaitan membuatnya lupa kepada pesan Yusuf untuk menyebutkan perkaranya kepada raja, maka ia berkata kepada raja dan orang-orang yang diundangnya untuk keperluan ini: ana unabbi-ukum bita’wiiliHi “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkannya.” yakni penafsiran tentang mimpi itu: fa arsiluun “Maka utuslah aku kepadanya”, maksudnya utuslah aku kepada Yusuf as. yang terpercaya itu yang sekarang berada di penjara.

Maka mereka pun mengutusnya ke penjara, dan sesampainya di sana, ia berkata: yuusufu ayyuHash shiddiiqu aftinaa (“Yusuf, hai orang yang sangat dipercaya, terangkanlah kepada kami”) selanjutnya ia menyebutkan mimpi raja, dan pada saat itu Yusuf segera menyebutkan ta’birnya, tanpa menyalahkan pemuda itu atas kelalaiannya menyampaikan pesan yang pernah dikatakan kepadanya, dan tanpa meminta dikeluarkan dari penjara sebagai syarat untuk mena’birkan mimpi raja itu.

About the Author