Ejaan

Ejaan

Ejaan adalah proses memilih serta mengadakan lambang-lambang untuk melahirkan perkataan secara lisan dan bertulis (jabatan pendidikan khas). Secara etimologi ejaan adalah kata ejaan berasal dari kata dasar saja yang berarti menghafal huruf-huruf atau lambang-lambang bunyi bahasa. Ejaan dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara khusus, ejaan dapat diarahkan sebagai pelambang bunyi-bunyi bahasa dan huruf. Baik yang berupa huruf dengan huruf ataupun huruf yang sudah disusun menjadi kata. Sedangkan secara umum ejaan berarti keseluruhan dan penggabungan yang dilengkapi dengan tanda baca.

Ejaan pada dasarnya mencakup penulisan huruf, penulisan kata termasuk singkatan, lambang bilangan dan penggunaan tanda baca. Dengan demikian ejaan merupakan kaidah atau peraturan penulisan bahasa. Peraturan ini harus dipahami oleh pemakai bahsa agar kelancaran komunikasi tertulis dapat tercapai. Dan sebaliknya apabila kaedah ejaan itu tidak dipakai maka proses komunikasi akan terganggu sehingga menyebabkan macet dan hal ini dapat disamakan dengan peraturan lalu lintas.

Ketidakpahaman terhadap kaedah ejaan merupakan pelanggaran-pelanggaran berarti penyimpangan disetiap penyimpangan identik dengan masalah. Agar pemakai bahasa dapat menghindar dari kesalahan maka ia harus mengetahui ejaan dan terampil menerapkannya (Asul Wiyanto. 2005 : 6).

Ejaan yang Berlaku Sekarang

Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). EYD mulai diberlakukan tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan yang ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama 25 tahun yang dikenal dengan nama Ejaan Repubik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat ejaan itu diresmikan pada tahun 1947).

Untuk sekedar memperoleh gamabaran tentang ejaan yang pernah berlaku pada masa lalu itu dan sekaligus untuk membandingkannya dengan ejaan  sekarang perhatikan huruf dana kata-kata yang ditulis dengan kegiatan macam ejaan itu dalam tabel di bawah ini.

EYD

(16 Agustus 1972)

Ejaan Soewandi

(1947-1972)

Ejaan Van Ophuijsen

(1901-1947)

Khusus Chusus Choesoes
Jumat Djum’at Djoem’at
Payung Pajung Pajoeng
Yakni Jakni Ja’ni
Sunyi Sunji soenji
  1. Penulisan Huruf Kapital

Penulisan huruf kapital pada umumnya terbagi menjadi beberapa macam antara lain :

  1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya :

  • Kami menggunakan barang produksi dalam negeri.
  • Siapa yang datang tadi malam?
  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:

  • Adik bertanya, ”Kapan kita ke Taman Safari?”
  • Bapak menasihatkan, ”Jaga dirimu baik-baik, Nak!”
  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan nama kitab suci, termasuk ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

  • Allah, Yang Mahakuasa, Islam, Kristen, Alkitab,  Quran, Weda, Injil.
  • Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hambaNya.
  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya: Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim, Raden Wijaya.

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Sumber: https://multiply.co.id/

About the Author