MUDIK LEBARAN BUKAN HANYA SOAL PERTANYAAN KAPAN KAWIN, TAPI JUGA MENJAGA KESEHATAN

MUDIK LEBARAN BUKAN HANYA SOAL PERTANYAAN KAPAN KAWIN, TAPI JUGA MENJAGA KESEHATAN

Pertanyaan kapan kawin atau kapan nambah anak itu udah biasa. Ketika mudik Lebaran kamu terhitung mesti mengayalkan soal kesehatan diri.

Mudik Lebaran memang ibarat survival game yang mesti dihadapi bersama dengan kepala yang adem dan hati yang ikhlas. Semua perjuangan itu di mulai dari bisnis mencari tiket mudik dan arus balik. Mau lewat online kok sukar sekali masuk ke situsweb bakulan tiket. Mau langsung ke agen kok malas. Pergulatan batin yang terlampau berat.

Perjuangan ke-2 adalah kebimbangan apakah sudi bawa oleh-oleh atau nggak. Lebaran terlampau lekat bersama dengan stigma pulang “tanpa oleh-oleh” tapi bawa sebanyak bisa saja barang dari rumah, lebih-lebih bahan makanan membuat “naq kos dompet dhuafa”. Itu baru soal buah tangan. Pertanyaan paling horor terdiri dari komposisi ini:

“Kapan lulus?”

“Kapan kerja? Kok masih nganggur?”

“Kapan punya pacar?”

“Kapan kawin?” (Udah, nikahnya yang belum ehh~)

“Kapan punya anak?”

“Kapan nambah anak?”

Mudik Lebaran menjadi gabungan kekhawatiran bagi kaum-kaum insecure. Nah, kamu mesti mengetahui kecuali mudik Lebaran tak boleh cuma diisi bersama dengan ketakutan. Saatnya kamu mengayalkan diri sendiri. Terutama dari segi memelihara kesehatan dikala mudik Lebaran. Nggak nyambung? Ya sebodo amat, yang penting konten (((bermanfaat))).

Selain buat persiapan mental, kamu terhitung nggak boleh mengabaikan fisik. Mudik Lebaran itu akan diwarnai oleh kemacetan, persaingan ganas memperebutkan tiket, hingga kelelahan mengarungi perjalanan darat yang panjang itu. Ada beberapa tips yang dapat kamu catat dan ingat baik-baik:

1. Bijaksana memilih moda transportasi dikala mudik lebaran.
Kalau kamu kerja di Jogjakarta dan sudi mudik ke Klaten atau Boyolali, ya nggak usah sok-sokan panik ikut mass hysteria rebutan tiket kereta sejak 90 hari yang lalu. Naik motor itu udah cukup, lha wong cuma satu jam perjalanan. Atau kecuali nggak punya motor, cobalah jalan kaki atau jogging. Hitung-hitung olahraga atau mencukupi nazar.

Nah, kecuali kamu kerja di Jogjakarta, malas cari tiket kereta untuk mudik ke Brebes, jangan maksain mudik Lebaran naik motor. Delapan jam perjalanan bukan waktu singkat. Kalau fisikmu kuat, ya nggak masalah. Kalau kena kipas angin saja kamu langsung muntaber, ya jangan memaksa. Pilih dan persiapkan moda transportasi sejak lama.

2. Waspada bersama dengan kelelahan.
Anggap saja kamu “cah ratan” yang betah naik motor berlama-lama. Kerja di Jogja, mudik ke Riau naik motor. Ya nggak bapak kecuali kuat dan nggak takut begal, asal kamu waspada bersama dengan kelelahan.

Setidaknya istirahat setiap empat jam sekali untuk pengendara mobil dan dua jam sekali untuk pengendara motor. Lakukan peregangan tubuh sepanjang 10-15 menit. Nggak mesti bawa barbel dan skipping rope. Kamu sudi mudik Lebaran, bukan kembali fitness sambil foto-foto di depan kaca selanjutnya posting di Instagram. Itu norak!

Mudik Lebaran berlangsung dikala kamu masih puasa. Jika kamu sudi jalan di siang hari, jangan paksakan tubuh dikala penat terasa. Kalau udah nggak tahan, langsung minum air untuk menghambat masalah kesehatan lanjutan. Batal puasa? Sebisa bisa saja ya jangan. Namun kecuali kamu nggak kuat, sekali lagi, jangan dipaksa. Musafir, kok.

Nah, kecuali jalan malam dan ngantuk, langsung menepi untuk tidur sejenak. Kamu dapat istirahat di masjid terdekat atau posko-posko yang umumnya didirikan di sepanjang jalan. Kalau sudi ke hotel terhitung nggak papa. Asal jangan bawa teman yang bukan muhrim. Digrebek kan dapat panjang urusannya.

3. Bawa bekal secukupnya.
Sering berlangsung kita menemukan makanan di tepi jalan yang tidak higienis. Kalau kamu khawatir, tersedia baiknya mempunyai bekal sendiri. Hindari makanan pedas dan bersantan, dan perbanyak makan buah-buahan lebih-lebih untuk pengemudi, seperti jeruk, pisang, mangga, belimbing atau apel. Kurangi makanan tinggi kalori dan lemak agar stamina sepanjang berkendara selamanya terjaga.

Jangan bawa nasi padang, lengkap bersama dengan segala gulai otak, ayam pop, ayam rendang, talua barendo, hingga es pisang ijo. Ini kamu sudi mudik Lebaran, bukan membuka lapak untuk membuka puasa.

4. Patuhi rambu lalu-lintas dan jangan terbawa emosi.
Selalu patuhi rambu lalu-lintas, jangan melalui batas kecepatan, dan siapkan perlengkapan berkendara yang aman; jadi dari helm, mengfungsikan sepatu, mengfungsikan jaket, hingga jangan lupa masker. Ini untuk pengendara motor ya.

Kalau kamu terlilit macet, cobalah pemeriksaan emosimu. Jangan marah-marah di jalan, memaki orang gara-gara macet berjam-jam. Kalau kamu terburu-buru, mending mabur ae, Ndes! Namaste, berpikirlah bersama dengan tenang. Jangan hingga mudik Lebaran th. ini berakhir di rumah sakit.

Sumber : https://penjaskes.co.id/

Baca Juga :

About the Author