Advokasi Mental

Advokasi Mental

Advokasi Mental

Advokasi Mental
Advokasi Mental

Melambungnya harga-harga di pasaran memang membanting kehidupan orang bawah. Wajar bila mereka layak mendapat ”kompensasi”. Yang menjadi soal, dalam wujud apa kompensasi itu diberikan. Akan lebih produktif jika diberikan dalam bentuk modal usaha ataupun training (pelatihan) usaha mandiri. Prioritasnya terletak pada advokasi mental. Tujuannya adalah membentuk pribadi-pribadi kuat, tahan banting, dan mampu menaklukkan kemiskinan.
Untuk hal ini, pemerintah Balikpapan perlu memberikan shock therapy kepada warga miskin tersebut. Di antaranya dengan mendata ulang warga yang betul-betul berada di garis kemiskinan, dan menjerat secara hukum warga yang pura-pura miskin. Jadi secara psikologis, tinggal bagaimana individu-individu tersebut menyikapi kemiskinannya, apakah bangga menjadi Gakin ataukah malu.
Kedermawanan adalah hal yang baik. Namun bentuk kedermawanan yang tidak tepat justru dapat menimbulkan akibat panjang. Antri mengular untuk menjadi warga miskin, atau berdemo jika namanya dicoret sebagai Gakin.
Konstitusi kita memang mengamanatkan fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Kenyataannya ”kemiskinan dan keterlantaranlah” yang dipelihara oleh negara. Bahkan wakil rakyat dan rakyat sama-sama merasa pantas menjadi warga miskin. Miskin materi jelas obatnya, namun miskin mental belum ada obatnya. Kapan bangsa ini bisa bangkit?

Sumber : https://busbagus.co.id/

About the Author