Sungkem, Tradisi Baru Kelulusan di Jogja

Sungkem, Tradisi Baru Kelulusan di Jogja

Sungkem, Tradisi Baru Kelulusan di Jogja

Sungkem, Tradisi Baru Kelulusan di Jogja
Sungkem, Tradisi Baru Kelulusan di Jogja

JOGJA – Tradisi baru perayaan kelulusan sekolah, dirintis oleh para pelajar di Kota Jogjakarta. Jika sebelum-sebelumnya dirayakan dengan konvoi dan corat-coret seragam, diganti dengan berbagi susu, nasi bungkus dan seragam pantas pakai.

 

Meski tidak lagi menentukan dalam kelulusan, keberhasilan menyelesaikan ujian sekolah

maupun ujian nasional tetap dirayakan siswa kelas 12 SMA/SMK. Sekitar seratusan pelajar yang baru dinyatakan lulus tersebut berkumpul di DPRD DIJ kemarin untuk merayakannya. ’’Perayaan kelulusan tahun ini dengan sungkem,” ujar koordinator Sungkem 2016 Adam Adi Nugraha.

Menurut siswa SMA 1 Jogja tersebut, dalam bahasa Sansekerta sungkem berarti berbagi. Berbagi dengan khalayak umum dan teman-teman yang membutuhkan. Untuk itu sejak beberapa bulan sebelumnya, para siswa dari berbagai sekolah negeri dan swasta di Jogja tersebut sudah mengagendakan kegiatan sungkem 2016. ’’Ada sekitar 50 sekolah yang ikut serta,” jelasnya.

Sungkem 2016 yang baru pertama kali digelar tersebut berhasil mengumpulkan dana mencapai Rp 9 juta,

yang digunakan untuk membeli susu kedelai dan nasi bungkus. Nasi bungkus dan susu kedelai tersebut yang dibagikan seperti ke para juru parkir, PKL, tukang becak dan lainya di delapan titik. Selain itu juga mengumpulkan seragam pantas pakai yang akan didistribusikan ke siswa di Indonesia bagian timur dan sebagain sekolah di Jogja. ’’Kami ingin menghapus stigma negatif masyarakat saat kelulusan SMA yang identik dengan konvoi dan akhirnya berujung tawuran,” paparnya.

Adam menilai seharusnya dalam usia lulusan SMA sudah bisa berpikir dewasa, dengan tidak melakukan kegiatan negatif saat perayaan kelulusan. Warga Ngemplak, Sleman tersebut mengatakan setiap acara kelulusan perlu disyukuri dengan kegiatan positif. Untuk itu mereka mengajak teman maupun adik-adik kelasnya untuk berbagi saat merayakan kelulusan. ’’Ngapunten, kalau menurut saya keterlaluan di usia saat ini masih merayakan dengan hura-hura dan akhirnya malah tawuran,” ujarnya.

Sementara itu tukang becak di Malioboro, Jamiyo, yang menerima nasi bungkus

dan susu kedelai dari para siswa, mengatakan mendukung kegiatan para siswa yang baru lulus tersebut. Jamiyo menilai kegiatan para siswa tersebut sangat membantu. ’’Bagus ini daripada konvoi ngebaki dalan, kan bisa berbagi nasi,” tuturnya.

 

Sumber :

https://sam-worthington.net/soal-teks-prosedur/

About the Author